Hangatnya Maaf

Kamu sapa namaku malam itu, hangat rasanya. Lama rasanya sejak kedinginan di antara kita melanda. Rasanya sedingin angin malam musim kemarau. Terasa agak lama sejak tangis terakhirmu yang kupergoki di dekat pilar malam itu. Masih terasa lorong dingin itu terpecah oleh panasnya tangismu. Pedih memang tak jauh kurasa. Tidak ada hangat malam itu, hanya panas dan dingin yang hadir sangat kontras. Continue reading

Advertisements

Rasa Lokal

Kemarin malam saya dan kawan-kawan berlima menghampiri sebuah food festival di Balai Kota Bandung. Rencana awal kami sebenarnya akan mengisi penuh sisa ruang di perut yang hanya sedikit terisi pada acara sebelumnya, di undangan pernikahan kawan kami. Sesampainya di venue, kami berlima mulai menyusuri beberapa stand panganan yang tersedia melawan arah jarum jam. Berbagai jenis makanan tersedia di sana, namun harga yang ditawarkan kepada para pengunjung, menurut saya pribadi, tidak bersahabat. Ya, di sini saya mulai merasakan kesenjangan yang terjadi antara saya selaku orang Bandung berumur 23 tahun tanpa pekerjaan dan beberapa pengunjung lain yang datang dari berbagai tempat dan kalangan. Continue reading