Anggur Segar

Hidup sebagai pengangguran intelek segar akan diwarnai oleh beberapa hal baru yang dilakukan oleh orang tua di rumah, berikut beberapa hal yang mewarnai hari-hari saya sebagai pengangguran baru:

1. Bangun pagi akan menjadi lebih pagi dari biasanya karena entah mengapa ibu saya mendadak memajukan jam hidup anaknya untuk segera bangun pada pukul 4.00 subuh. Jika lewat dari jam itu padahal masih terhitung pagi, contohnya pukul 6.00, maka sudah tentu dianggap kesiangan dan anaknya akan didiskualifikasi dari daftar orang sukses atau calon sukses dan secara langsung menabung jam kegagalan hidup. Jam kegagalan hidup yang dimaksud adalah jam yang tidak terpakai secara efektif menurut pihak orang tua sebagai produsen.
2. Selain masalah waktu sudah menjelma menjadi salah satu hal yang paling penting , terdapat hal lain juga yang menjadi sorotan orang tua terhadap kondisi anaknya yang pengangguran yaitu pergerakan. Pada beberapa hari awal saya menjadi seorang lulusan dan pengangguran baru, penekanan ‘bergerak’ di rumah belum begitu besar. Melewati beberapa bulan, tekanan itu akan membesar dengan intentsitas yang meningkat. Aktivitas yang saya harus lakukan di dalam rumah juga meningkat seiring berjalannya waktu, semakin lama semakin banyak. Mulai dari membersihkan alat makan satu rumah dalam satu hari sampai harus menyiapkan pesanan orang lain di Toko Onix. Hal ini akan berpengaruh terhadap uang bensin serta jam kegiatan saya di luar rumah, apapun itu.

3. Selain kedua hal sebelumnya, pola pengusiran juga akan digalakkan. Pengusiran di sini maksudnya penempatan lokasi hidup anak yang baru di luar rumah dalam jangka waktu yang cukup panjang, diharapkan permanen. Pengusiran akan dimulai dari bahasa verbal terlebih dahulu. Pengusiran akan diselipkan di antara kedua hal yang telah disebutkan sebelumnya. Sebagai contoh saat menyapu, salah satu dari pihak orang tua akan berujar, “kerja makanya jadi gak nyapu aja..” dengan nada datar. Hal ini akan secara berulang pada momen-momen lain di hari yang sama dan berikutnya. Poin ke-3 ini sebenarnya bertentangan dengan ujaran mereka saat saya masih berada dibawah pengaruh skripsi aktif yang bertujuan untuk keluar dari ranah kampus, yaitu “…[K]alo udah lulus mah kamu BEBAS MAU NGAPAIN AJA.” Kebebasan yang dijanjikan pada saat itu ternyata tidak lekas terjadi.

Demikian beberapa poin utama yang mewarnai hari-hari saya di rumah sebagai pengangguran baru. Perlu diperhatikan juga bahwa penerapan aturan-aturan tersebut oleh pihak orang tua sebagai produsen yang juga menduduki posisi tertinggi pada bagan rumah tangga dengan anak pengangguran berusia 20an yang menetap di bagan paling bawah telah diterapkan oleh lebih dari satu keluarga saja. Menurut data yang saya dapat dari berbagai sumber, pemberlakuan aturan serta pengusiran tersebut hanya dibedakan oleh latar belakang pendidikan orang tua, pekerjaan mereka sebagai produsen, serta lingkungan rumah sekitar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s