Ratapan Melankolis

Malam ini saya melihat sesosok skuter biru dua tak meraung dengan tampilan serupa dengan milik saya yang sedang teronggok berselimut debu di garasi rumah mengunggah pikiran saya ke semesta tentang dia, skuter saya, sepaket dengan seluruh kenangannya.

“Hai kamu yang berselimut debu, apa kabar? Maaf yah saya belum punya waktu buat ngerawat sama jalan-jalan bareng lagi.”

Suaramu yang berima khas terbanting jika menabrak dinding tembok lapisan gendang telinga kemudian saling memantul saat berjalan di atas jalanan aspal Bandung sering berhasil membuat saya tersenyum sendiri. Setiap ketukannya juga sembari membawa memori terhadap banyak hal yang sering kita lakukan bersama. Kemudian asap membantu menghadirkannya kembali lewat hisapan terus-menerus dari hidung beraroma khas oli samping. Terlebih lagi hentakan lembut menajam saat saya tertawa mengganti tahapan gear yang tersedia di tangan kiri untuk memacu naik kecepatanmu. Oh melankolis.

Jok hitammu tempat saya serta beberapa teman pernah duduk menikmati hari sepaket dengan kelelahan dan kepenatan yang telah hadir menuju rumah atau tempat-tempat menyenangkan lainnya. Segala cerita tumpah ruah tak kenal ruang di atas sana, segala canda juga hadir menjadi obat ajaib tak kenal bentuk dan rupa di atas sana. Kamu dan jokmu tempat saya dan kawan-kawan bertemu mencari ide, terima kasih.

Sungguh melankolis malam ini jika mengingat ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s