Hangatnya Maaf

Kamu sapa namaku malam itu, hangat rasanya. Lama rasanya sejak kedinginan di antara kita melanda. Rasanya sedingin angin malam musim kemarau. Terasa agak lama sejak tangis terakhirmu yang kupergoki di dekat pilar malam itu. Masih terasa lorong dingin itu terpecah oleh panasnya tangismu. Pedih memang tak jauh kurasa. Tidak ada hangat malam itu, hanya panas dan dingin yang hadir sangat kontras. Kutawari salah satu jaket yang aku gunakan saat itu, namun kamu tolak. Aku mengerti kamu panas karena menangis, tenang aku pernah di sana. Sebenarnya tak bisa aku terima saat itu. Momen membiarkanmu menangis sendiri walaupun aku sambangi. Kutawari kamu bantuan, namun kamu tetap menolak mentah. Aku paham, sesak rasanya memiliki masalah dan berpikir bahwa kita sendirian di dunia. Aku beranikan mengusap punggungmu lembut. Tidak berani aku memaksamu bercerita. Hanya saran untuk tidak berhenti menangis yang aku ucapkan. Maaf, maafkan aku. Aku bukan penyihir ala cerita dongeng yang dapat memiliki kekuatan untuk merubah keadaan dengan seayunan tongkat. Maaf, aku bukanlah seorang peramal yang tahu segala masalah yang kamu rasakan tanpa kamu beritahu. Maaf, aku bukan tabib handal ala negeri dongeng nun jauh di sana yang dapat menyembuhkan sakitmu dengan segala campuran ramuan.

Tidak lama kamu minta aku temani dalam kesendirianmu itu. Aku bingung bukan main. Orang bilang, cinta itu buta. Segala jarak bukanlah halangan untuk menempuhnya, namun ini berbeda. Aku selalu bertanya kamu siapa? Aku siapamu? Kenapa aku? Kenapa kamu? Dua roda kendaraanku bisa saja kupacu, tapi aku masih berpikir tentang imbalanku. Aku rasa aku sedang bermain, sedang bermain dengan segala macam potensi otak untuk berinteraksi denganmu. Kupikir aku sedang bermain, bermain hati dengan orang lain. Aku menolak, menolak ajakanmu dengan segala alasan yang sudah kamu sadari sebelumnya. Belum sempat ku amini kamu sudah menyadari. Lucu memang.

Kabar burung malam itu menggangguku. Sebentar setelah kamu mengabariku, cerita tentang posisimu mendatangiku. Ternyata kamu sendiri di sana. Kalang kabut bukan main aku. Aku pikir ini salahku. Seharusnya aku bisa mengebut menempuh 15KM jarak untuk menemanimu. Kehangatan yang lama aku tidak rasakan ternyata baru hadir. Sekali hadir tidak lama. “AH!” sesalku. Aku mulai menghela nafas. Malam itu bunyi-bunyian lain datang lewat sekotak jendela kecil yang menghubungkan kamu dan aku. Pesanmu mulai tertutup, tidak lagi menjadi prioritas tertinggi yang meramaikan malamku.
Maafkan aku, kamu sendirian di sana. Kupikir, kupikir hanya karena aku.

Lalu kubuka lagi pesanmu, aku semakin bingung. Kamu mengirimiku saran untuk mendengarkan sebuah lagu. Aku tidak mengerti kenapa. Mungkin, ini masalahmu selama ini. Aku juga masih menerka, berusaha sejadi-jadinya, namun itu hanya terkaan. Belum tentu benar, mungkin hanya dugaanku saja.

Maaf untuk malam ini, maaf karena aku telah berhasil dikecoh oleh pikiranku sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s