Panggilan Dingin Tak Tahu Malu

Siang itu panas menyengat aspal jalanan di sekitar rumah. Garis-garis sinar yang terpencar seolah mencabik hamparan hitam tempat banyak ban menapakkan jejak mereka. Tak kalah dengan itu, serbuk debu tersamping pun ikut terbang ditiup udara hangat tanpa tujuan. Pada akhirnya menempel, menyelimuti benda diam di sekitar tak berdaya. Manusia-manusia bertebaran di berbagai tempat menapaki kembali tahun berbeda hari ini, tanpa makan, minum, amarah, dan birahi. Mereka terlihat menekan perasaan melalui ucapan bisu tanpa nafsu.

“Hari mati pertama dalam sebulan..”, batinku.

Tak lama, tak lebih lama dari cangkulan seorang kuli pasir di siang itu, ponselku berdering. Sudut kiri atasnya memberi tanda gelembung suara. Pandanganku pada layar laptop ini pun terputus, terenggut oleh kesatuan suara dan visual pada benda ringkih kecil yang ributnya bukan main. Perhatian sekejap itu pun berlalu, tak langsung kubuka kuncinya. Tidak kudaratkan jariku untuk mengetuk bagian depan ponselku.

“Pasti tak penting siang-siang begini.”  
“Anak-anak lain mungkin.”, kiraku.

Dering itu kembali, berkali-kali muncul, berkali-kali melemparkan bunyi tak asing mengganggu, berkali-kali memanggilku. Tak tahan diganggu, aku ketuk, geser,dan buka. Ternyata dia, bukan orang asing. Ternyata dia, makhluk astral yang pernah membuat aku bergidig setengah mati lupa akan ukuran badanku. Ternyata dia, anak perempuan yang pernah kujuluki bau vanila diantara bau badanmu. Ternyata dia, perempuan yang kusadar manis dengan lesung pipit saat tersenyum. Ternyata dia, orang yang kemarin pernah mendukungku untuk mendekati perempuan lain tapi gagal. Ternyata dia, manusia yang sering bercerita mengenai teman-teman pria dan mantan kekasih padaku. Ternyata dia, perempuan yang sering berargumen tentang apapun denganku. Ternyata itu kamu yang menyeru namaku dalam ruang obrolan maya.

Tak lama kubalas pendek pesanmu.

“Apa?”, jawabku. Bukan ketus, tapi memang begini caraku menjawab ujaran orang lain yang menyeruku.

Dia mengirimkan sebuah potongan gambar dari sebuah adegan film remaja. Gambar tersebut menunjukkan seorang anak lelaki yang bertanya alasan orang baik yang selalu mendapatkan orang yang salah. Di sisi lain aku kalut, bermasalah, beranjak pergi dari kursi. Kutinggalkan pesannya, tergeletak bersamaan dengan media yang lain. Dingin rasanya di siang yang panas itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s