Letih Lebih Lagi

Seolah samar padahal ini memar yang jelas. Ketika ada banyak hal yang kamu ceritakan kepadaku saat itu, hanya telinga ini yang berani bereaksi, bukan mata apalagi hati. Mungkin kamu tak tahu perihal ini tapi aku ingin jadi lebih lagi. Melihat matamu sama dengan membunuh satu bagian identitas utamaku. Identitas utama yang selalu tampak dan melekat padaku. Memasukkan reaksi organ imaji lain bernama hati hanya perlahan membunuhku. Terasa lama, namun ini hanyalah degup cepat tak beraturan.

Hilang, hilang jauh terbang perlahan hancur seperti abu rokok sisa tembakau yang dihisap masuk perlahan dalam, menghancurkan setiap sel, ruang, detak yang bergerak sampai akhirnya menghajar paru-paru dengan keras. Menetap di sana, melekat hitam legam, kelam. Sudah tidak lagi temarau tampaknya hati imaji ini, sudah hampir hilang kilatan setrum pada awal pertama itu. Hanya rasa es krim yang saat ini bisa aku rasakan. Es krim murah di siang hari itu menyegarkan siang panas dengan kehadiran matahari menyengat.

Bodoh memang bagi saya mengutarakan ini padamu, bodoh. Tapi memang rasa seringkali membodohi logika otak yang dibangun setinggi dan setebal dinding beton penjara level keamanan maksimal.

Saya tahu kita dekat, dekat walaupun kamu sering tak mau tahu itu. Walaupun kamu sering tidak perduli akan itu. Walaupun kau sering lupa akan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s