Satire

Aku sedang bingung kenapa diriku berkomentar tanpa seringkali berpikir terlebih dahulu. Padahal, komentar yang diutarakan seringkali berdampak negatif terhadap objek yang dikomentarinya. Aku juga bingung dengan cara penulisan yang dianggap mendukung, padahal sebenarnya memuat pesan mengkritik. Diriku melihat dan berpikir tentang apa? Hanya ada dukungan dan hujatan? Atau juga ada hal lain terselip di antara kedua hal besar itu? Tak Tahulah aku. Bingung aku dengan caraku sendiri berpikir. Seringkali langsung menghina dengan kasar dan membela.Pada akhirnya aku hanya akan tertunduk lesu saat yang dibela malah berbalik mengecewakanku. Seperti saat ini, kebingunganku pada pola tulisan non naratif non deskriptif yang sedang mengkritik diriku sendiri sebagai bagian kecil dari suatu kelompok besar massa dunia.

Suatu hari ada banyak ocehan yang berdengung di akun media sosial tentang kebobrokan lawan politik yang tidak aku dukung. Lalu, di lain waktu di hari yang sama aku terus menyebarkannya ke dunia tentang lawan politik itu yang sangat tidak manusiawi. Tak lama aku dihujani dengan berbagai komentar miring, tajam, menusuk, namun banyak pula yang mendukung langkahku memilih salah satu. Bukan, kawan ini bukan tentangmu semua, ini tentangku. Aku dipandang sebagai makhluk paling tidak tegas, menye-menye,  anti berani, dan tunduk dengan atasa saat sebagian diriku yang lain tentunya juga bertindak demikian di seberang sana. Sekarang, diriku yang lain sering menertawakanku saat aku sendiri juga sering menertawakannya karena akhirnya dia kalah. Setelah orang dukunganku terpilih, ternyata banyak hal yang tidak aku duga malah berbalik merugikanku. Aku meratapi seolah menyesal, ingin berujar tapi mulut ini bisu. “Bodohnya aku!” -hati ini meracau tiap hari.

Di lain sisi aku memberi hormat terhadap poin-poin yang menurutku baik dari pihak lawan politik, tapi akuu dihujat kembali. Aku bingung bukan kepalang kawan. Aku selalu disalahkan atas pandanganku terhadap diriku yang lain. Menjadi ‘di antara’ memang bukan aku. Bukan aku, mungkin kalian, tapi bukan aku. Menyadari kebaikan diri yang lain dan memaafkan keburukan diriku memang bukan aku, benar-benar bukan aku. Hukum ‘jika salah akan tetap salah, jika benar maka akan selalu benar’ akan terus berlaku di sini. Sekali lagi, ini bukan tentang kalian, ini tentang aku.

Saat aku haus akan sebuah tontonan dalam negriku yang indah ini, aku mulai menghargai jiwa-jiwa muda lama tua yang melahirkan karya-karya baru berlabel bagus. Setelah menonton, aku menjadi ragu akan penglihatan dan penilaianku terhadap karya bangsa sendiri. Apakah ini memang benar bagus ataukah aku mataku rabun terlampau rabun? Aku mulai berbagi dengan diriku yang lain, yang tersebar di luar sana, selain aku dan diriku yang di sini, yang ikut duduk dan menulis. Sekali lagi, aku dicibir, aku dihina, aku dianggap tak pantas berkualitas matang. “Percuma!” umpat diriku yang lain. Mungkin benar menurut mereka, diriku yang lain, kebaikan karena ini karya mereka yang sudah lama berkecimpung di sana, butuh penghargaan!

Kawan, aku, diriku, dan diri=diriku yang lain sudah tidak baik lagi. Bahkan sudah harus kutulis judul Satire sebagai awalan agar dapat dilihat dan diterima. Apakah satire memang harus ditulis dan dilabeli demikian ataukah boleh tanpa label dan biarkan mereka sadar seiring berjalannya waktu bahwa tulisan ini bertujuan menyenggol mereka yang sudah patuh membatu akan seluruh paham mereka yang berada pada garis pinggiran jalan yang sebenarnya tidak lagi putih dan tidak ada. Bahkan untuk urusan jalan memang tidak ada.

Entahlah..

Ditulis oleh diriku, untuk diriku, bagi diriku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s