Pandangan Aneh Adjektiva

“Daging Dewa!” -Felix, 22Tahun.

Setiap malam saya dan beberapa teman seringkali berlatih fisik di sebuah lapangan di Bandung. Seringkali kami membicarakan banyak hal setelah berlatih. Kemarin malam kami berbicara mengenai masakan-masakan favorit. Beberapa teman yang datang dari daerah-daerah berbeda mengutarakan kegemaran makan masakan yang paling mereka sukai. Beberapa dari kawan sekota saya merekomendasi kedai-kedai yang menjual masakan enak. Dari seluruh teman, ada satu orang yang berasal dari Medan, Felix namanya. Dia anak Medan asli yang sedang kuliah di Bandung. Menurut dia udara Bandung itu sangat pas untuk menemani kita mengonsumsi makanan atau minuman yang hangat.

Dia mengutarakan tentang makanan kegemarannya. Sebelumnya dia hanya memberi tahu kami nikmatnya tuak khas dari Medan. Selanjutnya dia melanjutkan tentang makanan kesukaan dia. Sebagai orang Batak dari Medan, menurut dia, masakan berbahan utama daging babi adalah masakan paling lezat. Bagi dia daging babi itu adalah makanan yang turun dari surga.

“Wuaaah itu tuh, lezat sekali itu. Kami sebut itu daging dewa.”

“Makanya, kami tuh bersyukur kalian tak dapat makan begituan. Rasanya Slllurp.”, ujar Felix.

Dengan aksen khas Bataknya, dia terdengar lucu saat menginformasikan kelezatan ‘daging dewa’ itu. Bagi kami yang berada di lingkungan yang tidak biasa mengonsumsinya, hal itu terdengar aneh. Bagi saya pribadi, babi itu merupakan hewan paling menjijikan di bumi. Kerjanya hanya tidur, makan, lalu tidur lagi. Mereka makan apapun yang disediakan tanpa memilih. Pernah waktu itu saya berpapasan dengan sebuah truk besar yang mengangkut babi. Aromanya bagaikan penampungan isi toilet yang bocor, aslina. Mengonsumsi daging hewan semenjijikkan itu menurut saya seperti mengonsumsi hal yang tidak lazim.

Menjijikan adalah adjektiva yang paling cocok disandingkan dengan hewan itu. Tapi, pelebelan adjektiva terhadap salah satu makhluk Tuhan itu juga membuat saya berpikir. Apakah kita sebagai manusia lebih baik? Apakah kita sebagai makhluk Tuhan bukanlah makhluk yang menjijikkan? Pikiran ini membuat saya teringat akan karya teman baik saya, Rinaldy Fakhrana, sebuah puisi yang menceritakan bahwa kita manusia, sebagai makhluk Tuhan juga menjijikkan. “Maaf bi.”

Mari sejenak kita pikirkan kembali apa yang tubuh kita lakukan saat kita hidup. Dimulai dari proses kelahiran seorang bayi yang membuat perut si ibu kempis secara tiba-tiba serta meninggalkan banyak guratan kemerahan yang menonjol di sekeliling perut. Kemudian pecahnya air ketuban yang berendir lengket bercampur sedikit darah saat bayi tersebut akan lahir. Saat si bayi lahir ada ari-ari dan tali pusar yang lengket juga ikut keluar. Sebegitu menjijikkannya kita saat baru lahir.

Setelah kita dewasa bayangkan seluruh organ tubuh ini bekerja di dalam. Mereka memompa bagaikan mesin yang lunak. Mereka saling berikatan satu sama lain. Saat kita tidur, jantung memompa darah dan paru-paru menukar udara bersih agar darah dapat bersih juga. Bayangkan cairan berwarna merah gelap dan lengket mengalir ke seluruh tubuh kita.

Benda keras berwarna putih kekuningan bernama gigi berjumlah 32 menyambut masuknya makanan yang telah dibuat melalui cara yang tidak kalah menjijikkan ke dalam tubuh kita. Bayangkan ketigapuluhdua gigi itu menghancurkan makanan dicampur dengan cairan lengket bening bernama liur. Kemudian mereka masuk melalui organ lain sampai diproses ke sebuah ruangan berisi cairan asam bahaya. Sampai pada keluarnya sisa-sisa makanan yang berbau busuk.

Proses dalam tubuh yang dilakukan saat kita hidup sebenarnya memang menjijikkan sekaligus jenius. Tuhan menciptakan tubuh makhluknya sangat detail. Bahkan, Tuhan menciptakan itu di luar jangkauan ilmu makhluknya. Sifat adjektiva ‘menjijikkan’ juga menurut saya aneh karena kita yang juga menjijikkan melabeli hal lain menjijikkan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s