Terkejut Seharga Dua Ribu

Bandung saat ini sedang memasuki musim transisi. Jadi menurut ramalan cuaca seharusnya udah masuk musim kemarau atau halodo  lah orang Bandung bilang mah. Tapi kenyataannya di daerah rumah saya masih mendung dan di beberapa tempat lain sudah berhasil turun hujan lebat. Terlebih menurut termometer dan beberapa informasi lain, suhu di Bandung sudah menghangat saat sore hari karena akan turun hujan. Saya senang saat musim hujan di Bandung sebenarnya, udaranya semakin sejuk, jalanan basah yang aromanya itu weeuh enak banget. Sebenarnya, kalo lagi musim hujan kayak gini banyak meninggalkan kenangan di hidup saya dari kecil. Salah satu kenangan keren selain naik sepedah sambil ujan-ujanan adalah main bola sambil becek-becekkan.  Jaman dulu, waktu saya masih SD, hidup gak serumit dan gak senyebelin sekarang. Gak harus mikirin TA, gak harus mikirin kapan punya pacar, gak harus mikir besok mau ngapain. Pokoknya pulang sekolah kita main! Kalo gak main, yaa paling tidur siang, enak banget.
Dulu dengan mendung dan musim yang sama seperti sekarang, bapak saya sering dateng jemput saya dari sekolah. Dia biasa nunggu saya beres main sama temen-temen saya di seberang sekolah, di pelataran parkir tempat praktik dokter seinget saya, di bawah pohon jambu. Sekarang tempat itu sudah jadi bagian dari hotel Panghegar, Bandung. Biasanya bapak saya duduk di sana sambil nunggu hujan. Nah di tempat itu kebetulan ada penjual bakso yang ikut ngetem. Bocah kelas 5 SD kalo udah pulang sekolah terus hujan-hujanan bawaannya laper. Jaman saya SD bakso seharga enam ribu perak itu rasanya mahal banget, asli. Duit jajan aja cuma lima ribu waktu itu. Di daerah SD saya ada dua ternyata yang jual yamin, satu di tempat yang sama dengan tempat bapak saya nungguin saya, satu lagi di sebelah sekolah. Menurut teman-teman saya yang sering dibelikan bakso, yamin enak itu adanya di sebelah sekolah saya. Bagi saya, itu adalah seporsi bakso yang harganya selangit, Rp. 6.000,00. Bapak saya berbaik hati waktu itu sewaktu melihat saya datang menyebrang menuju ke arahnya. Sesampainya saya di dekat motor bebek tahun 2003, dia mengerti jika satu-satunya yang bisa mencerahkan the only one champ cuma makan. Hahai! Akhirnya, saya makanlah semangkuk yamin bersama bapak saya sambil menunggu hujan reda.

“Sekolah gimana dek? Ada PR gak?”

“Hmm.. Ada Yah.”, ujar saya sambil makan mie yamin waktu itu.

“Yang rajin sekolah, kamu anak laki ayah satu-satunya.”

“Hmmm yah.”

“Kenyang, Alhamdullilah.”

“Enak yaminnya?”

“Kata temen aku yang paling enak yamin yang di sebelah sekolah Yah. Tapi ini enak juga ah.”

“Haha..”, tawa bapak saya menyambut waktu itu.

Setelah makan yamin dan hujan telah reda, kami berdua pulang naik motor bebek tahun 2003 itu. Perut saya terisi penuh waktu itu. Di atas motor dalam perjalanan pulang, bapak saya mulai kembali perbincangan sembari sesekali menoleh, dan menyolek punggung saya.

“Dek dek tahu gak?”

“Hah? Apa Yah?”

“Itu bakso yang kamu makan tadi, harganya berapa coba?”

“Wah mahal itu, pasti. Sekitar 7000an lah.”

“DUA REBU! Hahaha!”, ujar bapak saya sambil melawan kuatnya suara angin yang bertiup ke arah kami.

Saya diam sesaat, terkejut, bingung. Saya masih ingat bagaimana terkejutnya saya saat itu di atas motor dengan perut kekenyangan. Pikiran saya terhadap yamin harga selangit itu langsung hilang tiba-tiba saat saya mendengar harga yamin dari bapak saya. Bagi kami sekeluarga hidup mewah dengan harga selangit bukanlah jenis hidup yang dipilih, terutama bagi bapak saya. Hidup itu bagi dia adalah berbagi dan sehemat mungkin untuk kepentingan diri. Yamin seharga dua ribu Rupiah itu menjadi salah satu kenangan masa kecil indah bagi saya dan bapak saya yang sekarang sudah pensiun sebagai seorang guru. Terima kasih Yah, atas yamin murah paling enak sedunia. Saya kangen sekali dengan hidup masa kecil dan perjalanan pulang kami di atas motor bebek. Sekarang saya sudah berumur 23 tahun dan baru ingat pesanmu tentang hidup yang bahagia.

“Ingat, uang enggak bisa membeli kebahagiaan.”- Bapak saya, gatau kapan.  

“Iya, tapi salah satu yang membuat saya bahagia adalah terpenuhinya kebutuhan saya saat hidup dan mati. Sialnya banyak dari kebutuhan butuh uang.”- Saya, saat umur 20an. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s