Tentang Maaf

Beberapa waktu yang lalu saya ikut merayakan Idul Fitri karena orangtua serta banyak keluarga saya Muslim. Selain makan-makan masakan khas Idul Fitri seperti kue kering, kupat, dan sayur bersantan, ada juga tradisi memohon maaf dan memaafkan seluruh keluarga dan orang-orang terdekat. Biasanya tradisi saling mohon maaf dan memaafkan ini masih berlaku beberapa hari atau minggu setelah hari raya Idul Fitri. Di hari pertama Idul Fitri, setelah selesai shalat Ied keluarga besar saya berkumpul dan melakukan tradisi saling bermaafan tersebut. Para orang tua duduk di sebuah bangku kemudian para orang yang lebih muda mengantre untuk meminta maaf, setelah itu bagi mereka yang lebih tua, seperti bude saya, duduk untuk dimintai maaf oleh anak-anak yang lebih muda. Hal ini sering disebut juga ‘sungkeman’.

Dalam acara tersebut banyak dari kami yang hanya bertemu saat itu saja, ya setahun sekali saja, karena urusan masing-masing. Kami hanya bertemu setahun sekali kemudian bermaaf-maafan. Ini yang anu bagi saya. Waktu kecil sampai SMA saya tidak peduli dengan urusan-urusan remeh seperti ini. Saya hanya mengikuti tradisi keluarga besar yang sudah berjalan dari tahun ke tahun. Begitu terus sampai saya merasa seperti ‘dipaksa’ untuk harus minta maaf kepada orang yang cuman setahun sekali bertemu dan berkomunikasi. Pasalnya jika tidak mengikuti tradisi ini akan dipandang sinis dan seringkali malah ditegur.

“Ayo pada baris! Kita sungkeman dulu, banyak salah sama orang tua.”
“Lah, dalam setahun ini baru ketemu hari ini, banyak banget salahnya?” 

Tentang Maaf 
Bagi saya yang sering nanya ini, namanya ‘minta maaf’ itu seharusnya dilakukan secara tulus dan sembunyi-sembunyi. Asli deh, saya rasa janggal aja kalo meminta maaf dan memaafkan dilakukan dalam skala partai atau grosiran. ‘Maaf’ itu sebuah kegiatan eksklusif dan lebih dari apapun. Suatu hal yang eksklusif kan harganya mahal, bahkan tidak terbeli serta jarang, apalagi sembarangan diobral. Bukan hanya itu, sesuatu yang eksklusif itu hanya ada pada waktu-waktu tertentu, tanpa ada pengumuman keberadaannya tidak seragam dan bentuknya tidak pernah sama.

Selain itu, bagi saya sih yang namanya ‘maaf’ itu sifatnya personal. Kaya ibadah ke Tuhan aja sifatnya, yang tahu cuman dua orang yang melakukan dan Tuhan sebagai pencipta. Ga usah diperhatiin dan merhatiin yang lain dan yang paling penting ga boleh dipaksain. Bisa sih dipaksain atas nama tradisi, tapi entar jadinya kaya anak-anak kecil yang disuruh shalat jamaah sama ustadz waktu kecil, kalo ustadz gak lihat saling injek kaki+ketawa cekikan.
*
TOS dulu ah buat yang gini waktu kecilnya.

 

Menurut saya lebih adem lah kalo kegiatan berjudul ‘maaf’, baik minta maupun memberi, dilakukan secara personal, tanpa ada yang tahu selain Tuhan dan orang satu lagi. Oh ya satu lagi, orang yang lebih tua lebih banyak salah biasanya dan meminta maaf bukan hanya kewajiban anak muda sih bagi saya. Buat kalian yang sudah berumur, saya kira sangatlah bijak untuk meminta maaf terlebih dahulu pada yang lebih muda. Ini tahun udah 2014 sob, berubahlah! Yang lama-lama ga selalu bener dan mesti diikutin kok.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s