Anggur Segar

Hidup sebagai pengangguran intelek segar akan diwarnai oleh beberapa hal baru yang dilakukan oleh orang tua di rumah, berikut beberapa hal yang mewarnai hari-hari saya sebagai pengangguran baru:

Continue reading

Advertisements

Ratapan Melankolis

Malam ini saya melihat sesosok skuter biru dua tak meraung dengan tampilan serupa dengan milik saya yang sedang teronggok berselimut debu di garasi rumah mengunggah pikiran saya ke semesta tentang dia, skuter saya, sepaket dengan seluruh kenangannya.

“Hai kamu yang berselimut debu, apa kabar? Maaf yah saya belum punya waktu buat ngerawat sama jalan-jalan bareng lagi.”

Suaramu yang berima khas terbanting jika menabrak dinding tembok lapisan gendang telinga kemudian saling memantul saat berjalan di atas jalanan aspal Bandung sering berhasil membuat saya tersenyum sendiri. Setiap ketukannya juga sembari membawa memori terhadap banyak hal yang sering kita lakukan bersama. Kemudian asap membantu menghadirkannya kembali lewat hisapan terus-menerus dari hidung beraroma khas oli samping. Terlebih lagi hentakan lembut menajam saat saya tertawa mengganti tahapan gear yang tersedia di tangan kiri untuk memacu naik kecepatanmu. Oh melankolis. Continue reading

Penyederhanaan

Malam ini melihat seorang anak harus ikut ibunya bekerja sebagai PSK dalam satu ruangan di TV. Lalu saya bingung, apa sebegitunya hidup manusia?

Sebagai orang luar saya tidak menyalahkan ibunya, mungkin dengan level akademisnya memang begitu pandangannya bahwa PSK merupakan sebuah pekerjaan yang biasa saja. Saya juga tidak mau sembarangan menyalahkan pemerintah layaknya banyak pihak bergelar akademisi sekaliber sarjana atau pemegang gelar lainnya, karena menurut saya pemerintah sudah cukup rumit mengurusi masalah lain yang lebih struktural dan terencana. Bagi saya, masalah seperti ini merupakan masalah manusia serta seluruh kerumitannya. Namun, dalam hal ini saya cukup tertegun memikirkan hal besar yang seorang anak lihat dari ibunya: “bekerja untuk hidup”. Continue reading

Hangatnya Maaf

Kamu sapa namaku malam itu, hangat rasanya. Lama rasanya sejak kedinginan di antara kita melanda. Rasanya sedingin angin malam musim kemarau. Terasa agak lama sejak tangis terakhirmu yang kupergoki di dekat pilar malam itu. Masih terasa lorong dingin itu terpecah oleh panasnya tangismu. Pedih memang tak jauh kurasa. Tidak ada hangat malam itu, hanya panas dan dingin yang hadir sangat kontras. Continue reading

Malam

Malam itu kami bertemu. Begitu juga dengan mata kami. Pertemuan disinari temarau lampu yang cukup menembakkan bayangan ke setiap dinding, dinding usang yang memiliki banyak bercak kotor di setiap lapisan cat yang sudah mengelupas. Udara disesaki asap rokok pada saat itu. Gelas bergelatakkan di atas meja ditinggalkan oleh para pemakai mereka. Suara ribut air mengalir dari keran yang dibuka. Suara lain berasal dari es yang bertumbuk dengan dinding dalam shaker. Saat itu Continue reading